RINJANI INSIDE Jaman SMA itu jaman jaman hobi jalan jalan.. Modal kamera prosumer udah cukup menangkap momen indah antara aku dan alam lukisanNya. Modal tenda ala kadarnya, energi yang sederhana, tapi tekad membara, aku menapaki permukaan bumiNya yang berbeda. Tak butuh bukti otentik kalau aku pernah berada disana. Vandalisme, foto selfi, atau insta story.. Ga perlu. Hanya aku dan kepingan memori. Bersama plasma, dan gelombang cahaya mentari dari berbagai puncak, samudra, dan daratan yang berbeda. Bersama udara segar, dan gelombang suara angin menerbangkan asa yang berdesir di lubang telinga. Meresapi terbit dan terbenamnya surya.. Memeluk erat hembusan angin yang menyejukkan dada. Aku jatuh cinta. Tak bisa kubayangkan bagaimana indahnya Surga yang sesungguhnya.. Jika dunia pun tiada habis dengan perbendaharaannya yang memuaskan panca indera. Bawa aku ke surga.
Pantai gesing, warak, panggang Setiap kali kesini selalu dengan orang yang sama, motor yang sama, formasi yang sama. Setiap deburan ombaknya, setiap tapak kaki dan lonjakan berenergi mengekspresikan gembira, setiap detik yang dihabiskan disana sudah penuh berisi muatan jalinan pertemanan. Seperti kata little prince dengan redaksi dan interpretasi milikku sendiri "mawarku seperti ribuan mawar lainnya, tapi waktu yang kuhabiskan untuk menyiraminya dan merawatnya membuatnya menjadi mawar yang istimewa, mawarku saja". Pantai ini bisa jadi bukan pantai yang paling indah di dunia. Pantai ini seperti pantai pantai yang lainnya. Tapi apa yang kami lakukan disini, Apa yang kami bicarakan disini, usaha kami menempuh perjalanan yang membuat penat, apa yang kami bangun di antara kepingan momen2 pertemanan, membuat pantai ini satu satunya di dunia! Dan meski kini kami menjelma masing2 menjadi pribadi yang berbeda. Pantai ini, tetap sama dengan muatan kenangannya.
Komentar
Posting Komentar